“Siswa Perlu Dipahami, Bukan Sekadar Dinilai”: Semangat Workshop KBC di MTsN 4 Ponorogo

MTsN 4 Ponorogo mengadakan kegiatan Workshop Implementasi Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) dengan Pendekatan Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) dalam mewujudkan pembelajaran bermakna, humanis, dan penuh cinta di lingkungan madrasah. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas guru dan tenaga kependidikan dalam memberikan pelayanan pendidikan terbaik kepada peserta didik.

Workshop dilaksanakan mulai tanggal 9 Mei 2026 bertempat di MTsN 4 Ponorogo. Pelaksanaan kegiatan di lingkungan madrasah merupakan bentuk efisiensi anggaran sesuai anjuran Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, tanpa mengurangi kualitas dan substansi kegiatan pengembangan profesionalisme pendidik.

Kegiatan menghadirkan narasumber Drs. Suprapto, M.M. dan Iswahyuti, S.Pd., M.Pd. yang akan membahas implementasi Kurikulum Berbasis Cinta (KBC), strategi pembelajaran mendalam (deep learning), penguatan karakter peserta didik, serta pembelajaran yang bermakna, reflektif, dan berpusat pada siswa.

Workshop dibuka secara resmi oleh Plt. Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Ponorogo, Mohamad Thohari, S.Ag., M.H. Kegiatan ini diharapkan mampu memperkuat kompetensi guru dan tenaga kependidikan dalam menciptakan budaya belajar yang positif, religius, menyenangkan, dan penuh kasih sayang sehingga terwujud generasi madrasah yang berkarakter, berprestasi, dan berakhlakul karimah. Beliau juga memberikan materi penguatan implementasi Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) berbasis regulasi. Dalam arahannya, beliau menegaskan bahwa penerapan KBC selaras dengan kebijakan dan semangat transformasi pendidikan di madrasah, sehingga guru diharapkan mampu menghadirkan pembelajaran yang tidak hanya fokus pada capaian akademik, tetapi juga penguatan karakter, kepedulian, dan nilai-nilai kemanusiaan dalam proses belajar.

Kepala MTsN 4 Ponorogo, Alip Budiono, S.Ag., menyampaikan bahwa workshop ini menjadi langkah penting dalam membangun budaya belajar yang lebih positif, religius, dan berpusat pada kebutuhan siswa. Menurutnya, guru tidak hanya mengajarkan ilmu, tetapi juga menghadirkan keteladanan, kasih sayang, dan pembelajaran yang menyentuh hati peserta didik.

Guru IPS MTsN 4 Ponorogo, Defita Dwi Anggi, S.Pd., memberikan apresiasi positif terhadap pelaksanaan workshop tersebut. Menurutnya, kegiatan ini sangat bermanfaat dalam membuka wawasan guru mengenai pentingnya menghadirkan pembelajaran yang tidak hanya berfokus pada materi, tetapi juga menyentuh aspek emosional, karakter, dan kebutuhan peserta didik. Ia berharap implementasi Kurikulum Berbasis Cinta dapat memperkuat hubungan positif antara guru dan siswa sehingga suasana belajar menjadi lebih bermakna, nyaman, dan menyenangkan.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *